Kamis, 27 Desember 2007

benazir bhutto

Tewasnya Pejuang Demokrasi Pakistan

Inilah gong tragedy memilukan yang terjadi di penghujung 2007. Mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto (54) tewas. Pemimpin oposisi Pakistan ini tewas akibat serangan senjata dan bom bunuh diri seusai menghadiri rapat umum di kota Rawalpindi, Kamis (27 Desember). Bhutto tewas di rumah sakit di Rawalpindi. Televisi Ary-One mengatakan ia ditembak di kepala.

Meski telah mendapatkan peringatan dari kepolisian, bahwa dirinya adalah sasaran pembunuhan kelompok Al Qaeda atau gerilyawan Taliban, Benazir tidak gentar untuk kembali ke tanah tumpah darahnya. Bhutto tiba di tanah kelahirannya setelah delapan tahun tinggal di pengasingan. Benazir menangis ketika turun dari pesawatnya. Sekitar 250 ribu pendukungnya berdiri di jalan-jalan menyambut kepulangannya.

Kepulangan Benazir ke Pakistan pada Oktober 2007 adalah kedua kalinya. Pada 1986, perempuan kelahiran Karachi, 21 Juni 1953, itu kembali ke tanah airnya setelah menjalani pengasingan sejak 1984. Ia berikrar akan ikut dalam pemilu Januari 2008 dan memenangi masa jabatan ketiga dalam pemerintahan, setelah pulang ke negaranya yang dilanda kemelut politik.

Benazir Bhutto telah mengatakan bahwa Partai Rakyat Pakistan akan ikut dalam pemilihan parlemen yang dijadwakan 8 Januari 2008. Keinginannya untuk mengubah Pakistan terus menguat. Ia pun dengan lantang menentang status negara dalam keadaan darurat yang diberlakukan Presiden Pervez Musharraf di awal November 2007.

Benazir dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berani. Pada 1969-1977 Benazir Bhutto belajar di Radcliffe College, Universitas Harvard, Massachusetts, Amerika Serikat. Ia melanjutkan studinya di Universitas Oxford pada 1973-1977.

Pada 16 November 1988, hampir genap satu tahun usia pernikahannya dengan Asif Ali Zardari, Benazir mengikuti pemilihan dan terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan tahun 1988. Benazir Bhutto menjadi perdana menteri wanita pertama di dunia Muslim. Ketika itu ia baru usia 35 tahun. Namun, ia dipecat pada 1990, kemudian terpilih kembali pada 1993, dan dipecat lagi pada 1996 di tengah tuduhan korupsi.

Ia mengatakan tuduhan itu telah dimotivasi secara politik, namun pada 1999, ia memilih tinggal di pengasingan ketimbang menghadapi tuduhan. Ancaman yang terus memburu Benazir tidak dapat menghambat keinginannya untuk menegakkan demokrasi di Pakistan. Semangatnya tidak goyah meskipun harus mempertaruhkan nyawa. Setelah tiba di tanah airnya kembali, serangan terhadap Benazir pun terjadi di Karachi, saat perjalanan setelah menginjakkan kakinya kembali di tanah air.

Seorang pembom bunuh diri menewaskan hampir 150 orang dalam serangan terhadap Bhutto ketika ia berparade melalui kota Karachi, Pakistan selatan, pada saat kepulangannya dari pengasingan. Gerilyawan Islam dituding sebagai pelaku serangan tersebut, tapi Bhutto telah mengatakan siap menghadapi bahaya untuk membantu negara itu.

Benazir Bhutto menuduh para pendukung mendiang penguasa militer Pakistan Mohammed Zia ul-Haq berada di belakang pemboman yang menewaskan lebih dari 130 orang setibanya di Karachi. "Saya tahu siapa yang ingin membunuh saya. Adalah orang-orang terkemuka dari bekas rejim Jenderal Zia yang sekarang ini berada di balik ekstremisme dan fanatisme itu," katanya dalam wawancara yang diterbitkan situs Internet Paris-Match.

Polisi mengatakan seorang pembom bunuh diri telah melepaskan beberapa tembakan pada Bhutto ketika ia (Bhutto) meninggalkan tempat rapat umum itu di sebuah taman sebelum meledakkan dirinya sendiri. "Orang itu pertama menembak kendaraan Bhutto. Ia (Bhutto) membungkuk dan kemudian ia (pembom) meledakkan dirinya," kata pejabat polisi Mohammad Shahid.

Polisi mengatakan 16 orang telah tewas akibat ledakan itu. "Itu adalah tindakan orang yang ingin menghancurkan Pakistan karena ia (Bhutto) merupakan simbol persatuan. Mereka telah menghabisi keluarga Bhutto. Mereka adalah musuh Pakistan," kata pejabat senior partai Bhutto, Farzana Raja.

Pada Jumat (28 Desember) dini hari, pesawat angkatan udara yang membawa jenazah Benazir Bhutto telah bertolak dari Islamabad, menuju kota Sukkur bagi pemakaman tokoh oposisi Pakistan terbunuh itu di sana. Kepergiannya dilepas oleh suami dan ketiga anaknya sebelum pesawat lepas landas. Kepergiannya diiringi isak tangis dan zikir dari para pendukungnya.

Kepergian Benazir Bhutto meninggalkan semangat perjuangan membangun demokrasi di Pakistan. Tragedi terbunuhnya mantan perdana menteri Pakistan ini menambah daftar panjang permasalahan yang terjadi di Pakistan. Tragedi ini menjadi pemicu krisis politik berkepanjangan di negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia.

Politisi sekaligus ibu dari tiga anak ini tetap dikenal sebagai seorang yang karismatik, tegas dan kritis terhadap pemerintahan, dimata pendukungnya. Benazir adalah pejuang demokrasi di Pakistan. Benazir mengikuti napak tilas perpolitikan yang keras mendiang ayahnya Zulfikar Ali Butho(1971-1980). Dimana Ali Butho tewas di tiang gantungan pada 4 April 1979 oleh rezim Zia ul-Haq. Namun pada tanggal 17 Agustus 1988, Zia-ul-Haq beserta beberapa pejabat militer Pakistan tewas dalam ledakan pesawat udara.

(sebagian data diolah dari web.bisnis.com, Jumat, 28/12/2007 08:10 wib)

Rabu, 26 Desember 2007

catatan akhir 2007


pelajaran dari 2007

2007 sebentar lagi berakhir. 2008 menunggu di depan hari-hari kita. Banyak sekali peristiwa mengisi detik demi detik kehidupan kita di tahun 2007. Dengan di-iringi senandung irama suka/duka, tidak kerasa lama, kita lewati dan habiskan 2007. Ternyata, sebagian dari waktu kita di 2007, kita isi dengan tanpa kesadaran.

Kita sering melakukan satu aktifitas, tetapi tidak melibatkan pikiran dan hati kita. Hanya tubuh kita yang gerak, pikiran dan jiwa kita berada di ruang yang berbeda. Kita terlena. Kita tersadar, ketika mendapati kalender pribadi kita yang hanya lembar terakhir.

… hei, Natal sudah lewat…

… aduh, kok, udah tanggal 27 Desember, ya…?!

Kita pun bergegas menyiapkan kalender baru. Segera, kalender 2007 kita turunkan. Memang, ada banyak catatan di sana. Ada tanggal yang dilingkari; ada angka yang diberi catatan. Coretan yang berwarna warni.

Ya, 2007, tadinya memang agenda. Tetapi hari ini, dia adalah kenangan, catatan manis/pahit, rumus, dan yang terpenting pelajaran untuk hari depan.

Bisakah, di 2008, hidup kita lebih berkualitas ketimbang di 2007?

* * *

Masih segar dalam ingatan kita, 2007 dipenuhi dengan peristiwa nasional yang mengharu biru. Musibah keganasan alam terjadi hampir di setiap penjuru wilayah Tanah Air kita. Merata. Tidak ada pulau di negeri ini yang menyatakan dirinya aman dari bencana alam. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, luapan lumpur panas, gunung meletus, tsunami, kebakaran hutan dan berbagai macam bencana lainnya. Peristiwa bencana terbaru adalah tanah longsor yang terjadi di Tawang Mangu, Jateng hari ini (Rabu, 26/12/2007).

Kemiskinan juga makin jelas terlihat membeit sebagian besar masyarakat kita. Lapangan pekerjaan makin sulit. Kriminalitas semakin sering terjadi, dengan modus operandi yang up to date, bermacam-macam. Namun, para pemimpin di negeri ini seakan tidak mau tahu dengan kondisi yang sebenarnya terjadi menimpa rakyatnya.

Rakyat terlalu putus asa mempercayai janji atasannya. Masyarakat miskin terlalu sering dibohongi, dibodohi. Lalu, apa yang tersisa dari negeri yang subur ini? Kesantunan, kemakmuran, kesuburan tanah, keberagaman budaya, kejujuran, atau apa lagi? Tidak satu pun.

Jangankan membantu mengurus tetangga kita, mengurus diri sendiri kita belum sanggup.

Sementara kita sibuk membodohi saudara kandung kita; sibuk mencuri uang rakyat kita; sibuk mencaci-maki teman kita; sibuk membunuh kawan kita, di tempat nan dekat di situ aja, laut kita digerayangi orang, pulau kita dijual orang; kesenian reog kita, lagu rasa sayange kita, seni musik angklung kita, kerajinan batik kita diakui orang. Kekayaan alam kita disedot habis oleh bangsa lain.

Seketika itu, kita berkacak pinggang: marah, memaki, dan mengatakan kepada seseorang sebagai pencuri, perampok dan pemerkosa. Kita tidak sadar, bahwa kalau pun mereka bangsa lain tidak mengambil, mencuri, merampok, atau bahasa apa pun, toh, kita juga tidak mungkin sanggup dan bisa merawat semua kekayaan yang ada di negeri kita.

Dan sebagai tambahan catatan, Uni Eropa (pada sekitar Maret 2007) bahkan melarang maskapai penerbangan sipil Indonesia melintasi wilayah mereka. Tamparan. Lagi-lagi, jangan sok marah. Lihat diri kita. Introspeksi. Toh, faktanya, system penerbangan kita sangat buruk. Keselamatan penumpang belum menjadi perioritas utama pihak penyedia layanan transportasi.

Sekali lagi, demi tegaknya kedaulatan NKRI, mari kita introspeksi diri. Bersatulah bangsaku, jayalah negeriku.

Subhanakallah, inni kuntu minazh zhalimin. Selamat menyambut Tahun Baru 2008.

selamat natal 2007


Catatan Natal 2007

Sengaja, di malam Natal tahun ini, saya berusaha terjaga hingga larut malam. Beberapa stasiun TV swasta, yang menyuguhkan siaran langsung ritual peringatan kelahiran Isa oleh sejumlah Gereja di Tanah Air, saya pilih menjadi teman untuk mengusir rasa ngantuk.

Saya sugguh suka dengan upacara peringatan menyambut kelahiran Isa yang digelar salah satu Gereja di Yogyakarta (dan juga di Solo), yang mengemas acara tersebut dengan desain adat Jawa, lengkap dengan kostum, alur cerita dan tarian khas Jawa.

Upacara keagamaan saudara kita umat Nasrani ini hampir sulit dibedakan dengan acara pisowanan agung Keraton Jawa, atau upacara pernikahan dengan adat Jawa. Saat itu, saya merindukan munculnya Sinterklaas dengan kostum adat Jawa lengkap dengan blangkon, Sinterklaas berpakaian adat Melayu, pakaian adat Banjar, pakaian adat Bali, dan pakaian adat daerah lainnya.

Intinya, suasana Natal yang Indonesia.

Saudaraku, Selamat Natal 2007. Semoga bangsa ini senantiasa damai, dan NKRI tetap jaya serta utuh. Amin.

selamat idul adha 1428 h


Catatan Idul Adha 1428 H

Dengan problem ketimpangan sosial, kemiskinan, sebagaimana yang dialami bangsa Idonesia seperti sekarang ini, masih relevankah system berkurban seperti yang selama ini kita laksanakan? Ribuan hewan kita sembelih untuk tujuan solidaritas, berbagi kelebihan rizki dengan sesama. Sudahkah kita melihat hasilnya?

Jangan-jangan, kita hanya membahagiakan orang miskin sehari, dan setelah itu, tetap kelaparan. Mengajak makan enak (daging) sehari, setelah itu kembali miskin untuk seterusnya.

Saudaraku, Selamat Hari Raya Idul Adha 1428 H. Allahu Akbar, Walillahil hamd.

Kamis, 06 Desember 2007

menjelang akhir 2007


Indonesiaku
Negeriku Tercinta
refleksi ALI ROMDHONI

akhir nopember lalau, saya berkunjung ke pekanbaru, riau, untuk mengikuti acara ilmiah bertaraf semi-internasional. dalam event itu juga hadir tamu-tamu undangan dari negara tetangga. saya senang bisa terlibat dalam acara itu, karena saya ketemu dengan sahabat-sahabat dari berbagai daerah di nusantara. saya memanfaatkan waktu luang di sela-sela padatnya sessi untuk berdiskusi dan dialog dengan peserta lain. tema pembicaraan kita seputar persoalan yang membelit negeri ini, indonesia.

kalau saya cermati, ada perubahan cara pandang dalam fikiran dan jiwa saya, dan ini mulai ketika saya bertempat tinggal dan bergaul di lingkungan ibu kota jakarta. hal baru dalam diri saya tidak lain adalah meningkatnya kepekaan saya terhadap persoalan-persoalan yang dialami oleh rakyat indonesia di setiap penjuru negeri ini. saya merasa sebagai bagian dari bangsa ini, yang mau tidak mau harus ikut terlibat dengan masalah-masalah yang menggerogoti bumi pertiwi ini--dengan segenap entitas di dalamnya. perasaan ini begitu kuat mendominasi jiwa dan fikiran saya.

saya merasa, mungkin karena selama di jakarta ini, saya bergaul dengan berbagai kalangan: lintas suku, kelas sosial, lintas agama, ideologi dan budaya, dan juga lintas geografis. di sini, pelan-pelan saya mulai belajar berempati untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi jauh di seberang sana. saya berfikir, apa yang akan saya lakukan seandainya saya besar dan tumbuh di kawasan yang belum terjamah pendidikan, listrik, TV, internet dan berbagai sarana transportasi lainnya.

saat ini, kepala saya dipenuhi dengan bayang-bayang malaysia yang mengklaim kesenian reog (kesenian identitas masyarakat ponorogo, indonesia)/lagu rasa sayange/makanan tempe sebagai bagian dari budaya/ kekayaan intelektual negara itu (maksudnya malaysia). kepala saya juga dipenuhi dengan persoalan kemiskinan, perbatasan indonesia dengan brunai dan/atau malaysia yang tidak terurus. ada lagi persoalan demo dan tuntutan masyarakat kepada berbagai pihak, terutama pemerintah untuk urusan tertentu. ditambah lagi dengan para pemimpin negeri ini yang masih saja tidak peka dengan persoalan yang dihadapi bangsa ini, dan apa sebenarnya yang dibutuhkan rakyatnya, yang miskin.

saya berfikir dan mengeluh, kepada siapa saya harus mendiskusikan berbagai persoalan ini, dan langkah apa yang pertama kali saya harus perbuat.

wahai saudara-saudaraku di tanah air... mari kita bangun dari keterpurukan.
lihatlah negeri kita yang luas.
janganlah terus berebut secuil kue demi kepentingan sesaat.
jangan rakus penuh kebencian dengan saudara sendiri.
marilah kita bersatu, membangun diri dan bangsa tercinta, indonesia.